Arsip:

Mental Health

Manis di Lidah, Tenang di Pikiran: Mitos atau Fakta Cokelat sebagai Pereda Stres?

Stres merupakan salah satu tantangan kesehatan mental yang paling umum dialami oleh mahasiswa. Beban akademik yang tinggi, tekanan untuk berprestasi, tuntutan organisasi, serta ketidakpastian mengenai masa depan seringkali menjadi sumber stres yang berkelanjutan. Dalam menghadapi kondisi tersebut, mahasiswa mengembangkan berbagai strategi koping untuk mengelola stres. Selain olahraga, tidur, dan dukungan sosial, konsumsi makanan tertentu juga kerap dianggap dapat membantu meredakan stres. Salah satunya adalah dengan mengonsumsi cokelat. Anggapan bahwa cokelat dapat mengurangi stres sudah sangat populer di kalangan mahasiswa. Namun, penting untuk mengkaji apakah klaim tersebut memiliki dasar ilmiah atau sekadar mitos yang berkembang secara sosial. read more

Libur Panjang, Waktu Banyak, tapi Kok Nggak Ngapa-ngapain?

Libur telah tiba, libur telah tiba! Akhirnya, penantian akan liburan akhir semester sudah terwujud. Sebelum waktu lenggang ini, kamu sudah berencana melakukan segala hal produktif, mulai dari belajar hard skills dan soft skills baru sampai terpikir cicil materi semester depan. Wah, banyak sekali deh kegiatan positif yang ingin dilakukan!

Akan tetapi, semuanya hanya wacana belaka. Scrolling di sosial media lebih menarik dibandingkan eksekusi perencanaan yang telah dibuat. Waktu terasa panjang, pasti bisa melakukan semua wishlist tadi. Penundaan terus terjadi hingga semester depan datang. Perasaan menyesal mulai tumbuh setelah masa liburan selesai.
“Kenapa kemarin aku nggak lakuin ini ya,”
“Coba aja kemarin aku nggak terlena sama yang lain, pasti sekarang aku udah punya skill itu,”
Dan, masih banyak variasi kalimat penyesalan lainnya. Lelah dalam penyesalan? Pasti. Rasanya ingin mengulang waktu kembali, walaupun belum tentu jika diulang kita akan melakukan hal yang positif. read more

Dari Siswa ke Mahasiswa: Seni Menyesuaikan Diri (Self-Adjustment) di Lingkungan Kampus dan Menciptakan Koneksi Sosial yang Sehat

Sudah beberapa bulan dunia kampus telah dilewati oleh mahasiswa baru FEB UGM. Banyak tawa, kecewa, khawatir pada indeks nilai, takut menghadapi dosen dan mata kuliah, dan beberapa hal lainnya yang sudah dialami selama paruh waktu menjadi mahasiswa baru. Transisi dari dunia sekolah menengah ke universitas, dari siswa menjadi mahasiswa, mungkin terasa berbeda bagi setiap orang. Ada yang merasa transisi ini mudah, ada yang bilang lumayan berat, dan bahkan beberapa yang merasa sangat berat. Ini merupakan hal yang lumrah bagi mahasiswa sebagai individu dalam menghadapi fase kehidupan yang baru. read more

Sibuk Bukan Berarti Efektif: Menyingkap Dampak Multitasking dalam Kehidupan Mahasiswa

Di tengah jadwal kuliah yang padat, tugas menumpuk, dan kegiatan organisasi yang berjalan bersamaan, kita sering kali merasa perlu mengandalkan multitasking dalam hidup kita. Multitasking terjadi ketika seseorang berusaha melakukan dua tugas secara bersamaan, berpindah dari satu tugas ke tugas lain, atau mengerjakan dua atau lebih tugas dalam waktu yang berdekatan secara cepat (American Psychological Association, 2006). Sebagai contoh, kita sedang mengetik makalah sembari mengikuti rapat daring, atau mendengarkan dosen menjelaskan materi sembari membalas pesan di grup organisasi.
Bagi sebagian mahasiswa, multitasking bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan. Dengan banyaknya tuntutan dalam satu hari, kemampuan membagi perhatian seakan menjadi keterampilan wajib. Apalagi, kemajuan teknologi membuat kita bisa membuka banyak aplikasi dalam satu layar. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika kita merasa multitasking adalah solusi cerdas untuk menghemat waktu. Namun, pertanyaan pentingnya adalah apakah otak manusia memang didesain untuk melakukan banyak hal sekaligus? Contoh sederhananya bisa kita lihat dari percakapan berikut, ketika mahasiswa mencoba menggabungkan berbagai aktivitas dalam satu waktu. read more

“People Pleaser”: Ketika Ingin Menyenangkan Semua Orang Justru Menyakiti Diri Sendiri

Sebagai seorang mahasiswa, kita sering dihadapkan pada berbagai pilihan, mulai dari diajak teman hangout ke mall, nongkrong sepulang kuliah, hingga ikut jalan-jalan dadakan di akhir pekan, padahal di saat yang sama, ada deadline tugas yang menanti untuk diselesaikan. Sekilas, semua itu tampak sebagai bentuk kontribusi dan keterlibatan. Namun, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri apakah semua itu dilakukan karena benar-benar ingin, atau semata-mata karena takut mengecewakan orang lain? Jika kita pernah merasa bersalah ketika menolak ajakan teman, atau tetap menyanggupi permintaan seseorang meski dalam kondisi lelah, mungkin kita memiliki kecenderungan sebagai seorang people pleaser. read more

Diam-Diam Lelah: Duck Syndrome dan Beban yang Tak Terucapkan

Di balik unggahan prestasi, senyum saat rapat organisasi, dan obrolan santai di kantin, bisa jadi ada seseorang yang sangat lelah menjalani hidupnya. Bukan lelah fisik semata, tapi lelah karena terus merasa harus terlihat baik-baik saja. Kita, sebagai mahasiswa, seringkali terbiasa menyembunyikan tekanan dalam diam, tetap tampil tenang di permukaan, meski sebenarnya sedang kewalahan. Fenomena inilah yang dikenal sebagai Duck Syndrome.

Ibarat seekor bebek yang tampak mengapung anggun di permukaan air, padahal di bawahnya kakinya sedang mendayung panik, begitulah banyak dari kita menjalani kehidupan perkuliahan. Terlihat santai dan terkontrol, padahal sedang berusaha keras agar tidak “tenggelam” dalam tuntutan hidup akademik dan sosial. Duck syndrome atau floating duck syndrome adalah kondisi ketika seseorang tampak tenang dan baik-baik saja dari luar, padahal sebenarnya sedang berjuang keras secara mental dan emosional di balik layar (Travers, 2024). Istilah ini diibaratkan seperti bebek yang terlihat tenang di permukaan air, tapi kakinya mengayuh cepat di bawahnya. Awalnya, istilah ini digunakan untuk menggambarkan fenomena di kalangan mahasiswa Stanford University. Namun, pada kenyataannya, kondisi serupa banyak dialami oleh mahasiswa di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, sebagai respons atas tekanan dalam menyeimbangkan tuntutan akademik, aktivitas nonakademik, dan kehidupan sosial (Riley, 2023). read more

Kuliah Boleh Padat, Tapi Hidup Harus Tetap Sehat

Apa Itu Gaya Hidup Sehat dan Mengapa Kita Perlu Peduli?
Gaya hidup sehat merupakan pola hidup yang mendukung keseimbangan fisik, mental, dan sosial secara menyeluruh. WHO (1999) mendefinisikan gaya hidup sehat (healthy lifestyle) sebagai cara hidup yang bertujuan untuk menurunkan risiko penyakit serius dan kematian dini. Gaya hidup sehat berarti mempertahankan kondisi optimal tubuh dan pikiran melalui konsumsi makanan bergizi, aktivitas fisik rutin, istirahat cukup, pengelolaan stres, serta menjauhi kebiasaan buruk seperti merokok atau konsumsi alkohol berlebihan. read more

Positif Terus? Toxic Positivity Bisa Bikin Kita Stres, Lho!

Di kehidupan yang penuh tuntutan dan ekspektasi, kita sering kali merasa harus selalu tampil kuat, ceria, dan penuh semangat. Terkadang, saat kita merasa lelah atau kecewa, kita justru menghibur diri dengan kalimat seperti, “Nggak apa-apa, yang penting tetap positif!” atau “Aku harus tetap bahagia!” Namun, tanpa kita sadari, kebiasaan seperti ini bisa berbahaya, terutama bagi kesehatan mental kita. Hal demikian dikenal dengan istilah toxic positivity yaitu sebuah sikap yang menuntut kita untuk selalu berpikir positif, bahkan ketika kita merasa tidak baik-baik saja. read more

Jurus Sakti Menangkis Pertanyaan Basa-Basi ala Mahasiswa FEB UGM

Lebaran merupakan momen yang dinanti-nanti oleh banyak orang, karena menjadi waktu berkumpul bersama keluarga besar, berbagi kebahagiaan, dan mempererat tali silaturahmi. Namun, bagi kita, terutama yang masih dalam perjuangan menyelesaikan studinya, momen ini sering kali menjadi ajang pertanyaan basa-basi yang terkadang justru menimbulkan ketidaknyamanan. Pertanyaan seperti “Kapan lulus?”, “Kok belum kerja?”, atau “Kapan nikah?” sering kali terdengar sepele, tetapi bagi sebagian orang, terutama kita yang sedang menghadapi tekanan akademik atau persoalan pribadi, pertanyaan-pertanyaan ini bisa terasa seperti tekanan sosial. Bahkan, pertanyaan mengenai perubahan fisik, seperti “Kok gendutan?” atau “Sekarang kurusan ya?”, juga bisa membuat kita merasa tidak nyaman.
Dalam budaya Indonesia, basa-basi sering kali dianggap sebagai bentuk kepedulian dan keakraban. Namun, hal ini tidak jarang justru menjadi pemicu kecemasan dan tekanan mental, terutama jika kita merasa belum mencapai ekspektasi sosial tertentu. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami cara menghadapi pertanyaan-pertanyaan ini agar tetap merasa nyaman dan dapat menikmati momen lebaran dengan tenang. read more

Brain Dump: Teknik Menulis untuk Meringankan Beban Pikiran

Journaling atau menulis jurnal sering disebut sebagai salah satu cara efektif untuk menjaga kesehatan mental. Meski banyak yang tertarik untuk mencoba, tidak sedikit yang merasa kesulitan untuk memulai. Menulis bisa menjadi hal yang sulit, apalagi kalau kita belum terbiasa melakukannya. Ada juga yang masih ragu apakah menulis jurnal benar-benar memberikan manfaat. Padahal, ada banyak bukti bahwa journaling dapat membawa dampak positif.

Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui tulisan dapat membantu meningkatkan kesehatan emosional dan fisik seseorang (Baikie & Wilhem dalam Scott, 2023). Journaling dapat menjadi salah satu cara efektif untuk mengelola emosi dengan sehat. Aktivitas ini dapat membantu memperjelas berbagai pikiran dan perasaan yang kita alami, sehingga kita dapat memahami diri sendiri, mengidentifikasi masalah yang dihadapi, serta menemukan alternatif solusi. Selain itu, journaling memberikan waktu jeda yang membuat tubuh menjadi lebih rileks. read more