Pernah nggak sih kamu lagi suntuk banget masalah tugas numpuk, organisasi lagi banyak kegiatan, terus niatnya pengen curhat sama temen biar lega. Tapi, baru cerita dua kalimat, temenmu langsung nyeletuk: “Ah, makanya kamu tuh harusnya…” parahnya lagi malah adu nasib, “Gitu doang mah belum seberapa, bayangin deh kemarin aku malah…”. Niat awal pengen curhat, eh rasanya malah tambah pusing karena ketambahan keluh kesah teman.
Sebagai mahasiswa yang disibukkan dengan berbagai hal di kampus, kita seringkali terjebak dengan kebiasaan buruk yang kita lakukan namun tanpa kita sadari. Kesibukan yang kita miliki terkadang membuat kita merasa lelah dan membutuhkan tempat aman dan nyaman untuk bercerita dan berkeluh kesah. Namun, di tengah kebutuhan untuk didengarkan, kita juga perlu mengingat bahwa hubungan tidak hanya dibangun dengan bercerita, tetapi juga kesediaan untuk mendengarkan satu sama lain.
Kebiasaan buruk yang sering dilakukan seseorang adalah hanya ingin didengar, tapi tidak bisa menjadi pendengar yang aktif, melainkan hanya seolah mendengar suara saja tanpa terlibat aktif didalamnya. Di sinilah letak perbedaan krusial antara sekadar mendengar suara dan menjadi seorang pendengar aktif (active listener).
Secara alami, manusia memang punya insting problem solver. Saat ada teman yang curhat, kita merasa terdorong untuk segera membereskan masalahnya, sehingga langsung coba memberikan solusi. Kita merasa keren kalau bisa ngasih nasehat panjang lebar ala psikolog atau motivator. Stephen R. Covey (dalam Grande, 2020) dalam artikelnya di Psychology Today tentang Active Listening Skills, mengatakan “Masalah komunikasi terbesar adalah kita tidak mendengarkan untuk memahami. Kita mendengarkan untuk membalas.”
Saat mendengarkan, isi kepala kita sering kali sibuk menyusun argumen balasan. “Nanti pas dia diam ambil napas, aku mau potong ah,” atau “Oh, aku tahu nih dia salahnya di mana.” Akibatnya, kita gagal menangkap kebutuhan emosional utama dari si pembicara yaitu mereka hanya butuh divalidasi, bukan dihakimi. Perlu kita ingat bahwa tidak semua orang yang bercerita sedang mencari jawaban. Sering kali, mereka sebenarnya sudah mengetahui apa yang perlu dilakukan. Yang mereka butuhkan adalah ruang yang aman untuk didengarkan dan dipahami.
Rogers & Farson (1979) pada teori humanistik “person-centered” menyebutkan bahwa mendengarkan aktif (active listening) merupakan keterampilan fundamental dalam mendengarkan orang lain secara efektif dan terlibat secara penuh. Dalam konteks ini, keterlibatan ditunjukkan melalui partisipasi aktif dalam menyusun pertanyaan relevan, mengulas dan merangkum materi, memberikan tanggapan, menunjukkan pemahaman mendalam, serta memperjelas poin-poin yang telah disampaikan. Tidak hanya itu, mendengarkan aktif juga berarti menjaga fokus mata, memberikan respons bahasa tubuh seperti tersenyum atau mengangguk, dan tidak menyela saat orang lain sedang berbicara (Weger Jr etal., 2010).
Rendahnya kemampuan mendengarkan aktif dapat menimbulkan berbagai masalah komunikasi seperti miskomunikasi, konflik interpersonal, salah persepsi, hingga menurunnya kualitas hubungan sosial (Winda & Ade, 2023). Kondisi tersebut umumnya terjadi karena individu lebih berfokus menyusun tanggapan di dalam pikirannya saat lawan bicara sedang menyampaikan pesan, alih-alih memberikan perhatian penuh pada apa yang sedang didengarkan.
Lalu, bagaimana cara menjadi pendengar yang aktif ?. Grande (2020) dalam artikelnya di Psychology Today tentang Active Listening Skills, memberikan pendapatnya terkait cara atau tahapan menjadi pendengar yang aktif.
- Mendengarkan tanpa menghakimi atau mengambil posisi pada suatu isu.
Coba untuk pahami tentang situasi dari sudut pandang orang lain.
- Memberikan kesempatan pembicara untuk menyelesaikan pemikirannya tanpa interupsi.
Mencakup jeda keheningan yang singkat, seperti beberapa detik. Kita mungkin butuh latihan sebelum tahu berapa lama harus menunggu sebelum memberikan tanggapan. Jika ragu, menunggu lebih lama tetap lebih baik daripada berbicara terlalu cepat dan memotong alur pikiran pembicara.
- Menunjukkan bahwa memusatkan perhatian.
Melakukan kontak mata, mencondongkan tubuh ke arah pembicara dan menanggapi humor dengan senyuman atau respons alami lainnya.
- Mengulangi apa yang telah kita dengar untuk memeriksa keakuratannya.
Gunakan kata-kata pembicara yang telah diolah kembali untuk menanyakan kembali keakuratan pemahaman yang kita terima.
- Mengajukan pertanyaan seperlunya ketika kita tidak mengerti apa yang coba dikomunikasikan oleh pembicara, terutama saat mencoba memahami poin utama dari pernyataan mereka.
- Memberikan ringkasan singkat untuk menunjukkan bahwa kita telah mendengar dan memahami apa yang dikatakan.
- Sebagai langkah terakhir, setelah benar-benar memahami apa yang disampaikan, kita dapat memilih untuk membagikan situasi serupa yang pernah kita alami atau pandangan kita sendiri tentang masalah tersebut. Kita bahkan boleh membagikan pendapat yang sepenuhnya berbeda, asalkan hal itu dilakukan setelah kita memahami apa yang dikomunikasikan.
Peer Support FEB UGM Sebagai Safe Space untuk Didengar Secara Utuh
Menjalani kehidupan akademis dan dinamika sosial di kampus sering kali membawa tekanan psikologis yang luar biasa besar. Terkadang, curhat ke teman saja tidak cukup, apalagi kalau mereka juga punya kesibukan atau malah sibuk nge-judge. Padahal setiap mahasiswa memiliki kebutuhan emosional dasar untuk merasa didengar secara tulus. Di sinilah Peer Support FEB UGM hadir sebagai solusi.
Dikelola oleh mahasiswa untuk mahasiswa, tim konselor sebaya di Peer Support FEB UGM telah terlatih untuk memahami prinsip active listening yang sesungguhnya. Mereka tidak akan menempatkan diri sebagai sosok sok tahu yang menceramahimu dengan setumpuk solusi akademis atau kehidupan. Sebaliknya, Peer Support FEB UGM berusaha berkomitmen akan menciptakan safe space (ruang aman) agar kamu bisa melepas penat dan menumpahkan segala bentuk curhatan dan keluh kesah. Di sana, kamu akan diterima secara utuh tanpa stigma dan tanpa penghakiman.
Kesimpulannya, seni terbaik dalam sebuah relasi ternyata bukanlah terkait seberapa pintar kita dalam meracik nasihat, melainkan seberapa tulus kita memberi ruang bagi orang lain untuk didengar dan hadir di sampingnya. Jika suatu hari nanti kamu merasa beban di pundakmu terlalu berat untuk ditanggung sendiri, ingatlah bahwa pintu Peer Support FEB UGM akan selalu terbuka. Kami siap memberikan telinga untuk mendengarkanmu.
Referensi:
- Grande, D. (2020, March 23). Active listening skills. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/in-it-together/202006/active-listening-skills
- Sofia, W., & Irma, A. (2023). Keterampilan mendengarkan aktif dalam meningkatkan empati komunikasi antarpribadi dengan teman sebaya. Jurnal Edukasi Komunikasi, 115.
- Rogers, C., & Farson, R. E. (1979). Active listening. Organizational Psychology, 57, 168–180.Sudrajat, R. (2023). Pentingnya Keterampilan Mendengar Untuk Menciptakan Pembelajaran Yang Menarik. Seminar Nasional Keindonesiaan (FPIPSKR), 8.
- Weger Jr, H., Castle, G. R., & Emmett, M. C. (2010). Active listening in peer interviews: The influence of message paraphrasing on perceptions of listening skill. The Intl. Journal of Listening, 24(1), 34-49.