Scroll sebentar di media sosial, dan linimasa sudah dipenuhi kabar teman-teman yang diterima magang di perusahaan besar, lolos program beasiswa, menjadi pembicara di seminar, hingga mengunggah sertifikat pelatihan terbaru. Tanpa disadari, muncul pertanyaan yang mengganggu: “Aku sudah melakukan apa selama ini?”
Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya mengikuti webinar hanya demi memperoleh e-certificate, mengambil lebih banyak kepanitiaan daripada yang mampu dijalankan, atau mendaftar berbagai program bukan karena benar-benar berminat, melainkan karena takut tertinggal dari teman-temannya. Perasaan seperti ini mungkin terdengar sepele. Namun bagi banyak mahasiswa, tekanan untuk terus produktif dan tampil berprestasi bukan hanya muncul saat liburan—melainkan hadir sepanjang perjalanan kuliah. Laporan American Psychological Association (2023) menunjukkan bahwa kaum muda merupakan kelompok yang cukup rentan mengalami stres akibat tekanan akademik maupun tuntutan untuk terus berprestasi.
Dulu, menjadi mahasiswa yang baik mungkin cukup berarti hadir di kelas, mengerjakan tugas, dan lulus tepat waktu. Kini, gambaran itu terasa jauh lebih rumit. Ada ekspektasi yang tidak tertulis bahwa setiap semester harus diisi dengan pencapaian yang dapat ditunjukkan: nilai tinggi, organisasi aktif, pengalaman magang, lomba yang diikuti, hingga portofolio yang terus diperbarui. Tidak ada yang salah dengan semua kegiatan tersebut, justru pengalaman-pengalaman itu dapat menjadi bekal yang berharga. Namun, ketika semua orang tampak berlomba mengisi setiap jengkal waktu dengan pencapaian, muncul kesan seolah-olah sekadar menjalani hari biasa seperti belajar, beristirahat, menikmati hobi–adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan.
Mengapa Kita Merasa Harus Terus Berprestasi?
Ada beberapa faktor yang mendorong tekanan ini tumbuh subur di kalangan mahasiswa.
Pertama, media sosial membuat pencapaian terlihat seperti standar. Setiap hari kita menyaksikan teman yang lolos magang di perusahaan besar, teman yang presentasi proyek bergengsi, teman yang menghadiri konferensi luar negeri, atau teman yang meraih sertifikat lomba nasional. Padahal, banyak hal yang tidak terlihat: puluhan lamaran yang ditolak, rasa cemas sebelum wawancara, kelelahan, dan kegagalan yang mendahului keberhasilan. Media sosial memang dirancang untuk membagikan momen terbaik. Hal ini berkaitan dengan konsep impression management yang dikemukakan Goffman (Cherry, 2026) bahwa individu secara sadar maupun tidak sadar mengkurasi cara mereka tampil di hadapan orang lain demi membentuk kesan tertentu. Di media sosial, “panggung depan” (front stage) yang ditampilkan adalah versi terbaik dari diri seseorang, semenatara kegagalan dan kelelahan tersembunyi di balik layar. Akibatnya, kita mudah menganggap semua orang selalu selangkah lebih maju, padahal yang kita lihat hanyalah potongan kecil dari perjalanan mereka. Di era media sosial, proses ini terjadi jauh lebih sering karena kita terus-menerus terpapar pencapaian orang lain (Fitri et al., 2024; Aprianti & Wendari, 2023).
Kedua, budaya “harus punya prestasi” semakin menguat. Ekspektasi terhadap mahasiswa kini terasa semakin luas: IPK tinggi, aktif berorganisasi, pernah magang, mengikuti lomba, memiliki sertifikasi, membangun portofolio, hingga aktif mengembangkan personal branding. Tidak ada yang keliru dengan semua itu. Masalahnya muncul ketika daftar pencapaian tersebut bergeser dari sekadar pilihan menjadi tuntutan yang terasa wajib dipenuhi. Akibatnya, banyak mahasiswa merasa belum cukup, meskipun sebenarnya sudah berusaha semaksimal mungkin (Ramadhina et al., 2023). Kondisi ini berkaitan dengan konsep conditional self-worth, ketika seseorang hanya merasa berharga apabila berhasil memenuhi ekspektasi tertentu, seperti mendapatkan nilai tinggi, lolos seleksi, atau memiliki daftar pencapaian yang panjang. Akibatnya, harga diri menjadi sangat rapuh: tinggi ketika berhasil, dan runtuh ketika tidak (Mejia, 2025).
Ketiga, membandingkan diri telah menjadi kebiasaan sehari-hari. Di era digital, perbandingan itu terjadi hampir setiap saat. Saat melihat teman berhasil, kita sering lupa bahwa setiap orang memulai dari titik awal, memiliki kesempatan, dan menghadapi tantangan yang berbeda-beda. Psikolog sosial Leon Festinger (1954) melalui Social Comparison Theory menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk membandingkan kemampuan dan pencapaiannya dengan orang lain sebagai cara menilai diri sendiri. Ketika budaya pencapaian terus diperkuat oleh lingkungan dan media sosial, banyak mahasiswa mulai merasa bahwa waktu istirahat adalah sesuatu yang harus “dibayar” dengan pencapaian lain (Tsabita et al., 2023). Yang semula hanya rasa kagum bisa berubah menjadi tekanan, bukan karena kita tidak turut senang atas keberhasilan orang lain, tetapi karena kita mulai mempertanyakan nilai diri sendiri.
Ketika Produktivitas Berubah Menjadi Tekanan
Pernahkah merasa bersalah karena menghabiskan satu hari hanya untuk beristirahat? Atau merasa harus segera membuka laptop setelah menonton satu episode serial favorit? Perasaan semacam ini sering disebut productivity guilt—perasaan tidak nyaman yang muncul ketika seseorang tidak sedang aktif bekerja atau menyelesaikan sesuatu, bahkan ketika tubuh dan pikiran sebenarnya membutuhkan waktu untuk pulih (Howard, 2025).
Ramadhina et al. (2023) menemukan bahwa tekanan untuk terus produktif tidak hanya berasal dari faktor personal, tetapi juga diperkuat oleh lingkungan akademik itu sendiri: tuntutan organisasi yang wajib diikuti, sistem penilaian berbasis aktivitas, hingga normalisasi kesibukan yang berlebihan di media sosial. Dampaknya nyata: sulit menikmati waktu luang, merasa diri tidak pernah cukup, terus mencari kesibukan, dan akhirnya kelelahan di tengah rutinitas yang seharusnya bermakna (Hasbillah & Rahmasari, 2022). Padahal, istirahat bukan lawan dari produktivitas. Istirahat justru merupakan bagian dari produktivitas jangka panjang.
Apakah Semua Pencapaian Harus Terlihat?
Ada pencapaian yang tidak bisa difoto atau diunggah ke media sosial. Misalnya: berhasil memperbaiki pola tidur, kembali menikmati membaca buku, menghabiskan waktu berkualitas bersama orang-orang terkasih, belajar mengatur keuangan, menemukan kembali semangat belajar, berdamai dengan diri sendiri, atau sekadar menyelesaikan hobi yang lama ditinggalkan. Tidak semua bentuk perkembangan dapat dirangkum dalam sertifikat atau ditampilkan di media sosial. Ada proses yang tumbuh dalam diam, tetapi memberi dampak besar ketika kita menjalani hari-hari berikutnya.
Mendefinisikan Ulang Arti “Berkembang”
Mungkin selama ini kita terlalu sering menyamakan berkembang dengan terus menambah pencapaian. Padahal, berkembang juga berarti mengenali batas kemampuan, memberi ruang untuk beristirahat, memperbaiki kebiasaan, atau mengambil jeda agar bisa melangkah lebih jauh.
Produktivitas tetap penting, dan ambisi bukan sesuatu yang salah. Namun, keduanya akan lebih bermakna jika berjalan seiring dengan kemampuan menjaga keseimbangan. Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey (2024) menemukan bahwa keseimbangan hidup menjadi salah satu prioritas utama generasi muda, sementara tekanan untuk terus berkembang dalam pendidikan maupun karier masih tinggi. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa waktu istirahat membantu otak memulihkan konsentrasi, meningkatkan kreativitas, serta mengurangi risiko kelelahan (Albulescu et al., 2022). Dengan kata lain, berhenti sejenak bukan berarti kehilangan waktu, melainkan investasi agar seseorang dapat kembali belajar dan bekerja secara lebih optimal.
Lantas, bagaimana cara menghadapi productivity guilt secara konkret? Mejia (2025) menawarkan beberapa langkah yang bisa dicoba. Pertama, ubah cara pandang terhadap istirahat. Alih-alih menganggapnya sebagai kemalasan, jadikan istirahat sebagai bagian dari pemulihan yang produktif. Kedua, perluas definisi produktivitas melampaui sekadar output: berolahraga, menjaga hubungan sosial, dan melakukan hal-hal yang menyehatkan mental juga termasuk bentuk produktivitas yang nyata. Ketiga, lepaskan keterikatan antara harga diri dan hasil kerja. Nilai diri seseorang tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak yang berhasil ia produksi. Keempat, berani mengakui rasa guilty tersebut kepada orang yang dipercaya, karena mengakui bahwa kita sedang kesulitan justru dapat meringankan beban dan membuka ruang untuk mendapat dukungan.
Kesimpulan
Di akhir semester, sebagian mahasiswa akan menunjukkan pengalaman magang baru, sertifikat pelatihan, atau proyek yang berhasil diselesaikan. Namun ada juga yang pulang dengan energi yang lebih pulih, hubungan yang lebih hangat, atau kejelasan tentang arah hidup yang selama ini dicari. Semua itu adalah bentuk perkembangan yang sama-sama layak untuk dihargai.
“Produktivitas yang baik bukanlah tentang terus bergerak tanpa henti, melainkan tentang mengetahui kapan harus melangkah dan kapan memberi diri sendiri ruang untuk beristirahat. Sebab, istirahat bukanlah lawan dari produktivitas, tetapi fondasi agar kita dapat kembali berkembang dengan lebih baik.”
Tidak semua proses bertumbuh dapat dilihat dalam waktu singkat. Ada yang tumbuh melalui pengalaman profesional, ada yang tumbuh melalui hubungan dengan orang-orang di sekitar kita, dan ada pula yang tumbuh melalui keberanian untuk berhenti sejenak ketika tubuh dan pikiran membutuhkan jeda.
Pada akhirnya, pertanyaan yang layak kita ajukan bukan “Apakah pencapaianku sebanyak orang lain?”, melainkan “Apakah aku sudah bertumbuh sesuai dengan kebutuhan dan tujuan hidupku sendiri?”
Daftar Pustaka
- Albulescu, P., Macsinga, I., Rusu, A., Sulea, C., Bodnaru, A., & Tulbure, B. T. (2022). “Give me a break!” A systematic review and meta-analysis on the efficacy of micro-breaks for increasing well-being and performance. PLoS ONE, 17(8), e0272460. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0272460
- American Psychological Association. (2023). Stress in America 2023: A nation recovering from cumulative stress. https://www.apa.org/news/press/releases/stress/2023/collective-trauma-recovery
- Aprianti, K., & Wendari, W. (2023). Fenomena sindrom fear of missing out (FoMO) pada digital natives: Kontribusi positif atau negatif bagi kualitas pembelajaran Generasi Z. Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran, 8(2), 207–216. https://doi.org/10.17509/jpm.v8i2.58866
- Cherry, K. (2026, Maret 19). Impression management: How to influence the way others see you. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/impression-management-8619231
- Deloitte. (2024). The Deloitte Global 2024 Gen Z and millennial survey. Deloitte Touche Tohmatsu Limited. https://www.deloitte.com/global/en/about/press-room/deloitte-2024-gen-z-and-millennial-survey.html
- Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–140. https://doi.org/10.1177/001872675400700202
- Fitri, H., Hariyono, D. S., & Arpandy, G. A. (2024). Pengaruh self-esteem terhadap fear of missing out (FoMO) pada Generasi Z pengguna media sosial. Jurnal Psikologi, 1(4), 1–21. https://doi.org/10.47134/pjp.v1i4.2823
- Hasbillah, M. S. R., & Rahmasari, D. (2022). Burnout akademik pada mahasiswa yang sedang menempuh tugas akhir. Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 9(6), 122–132. https://doi.org/10.26740/cjpp.v9i6.47320
- Howard, A. (2025, Juli 1). Productivity guilt: What it is and how to manage it. Healthline. https://www.healthline.com/health/mental-health/how-to-manage-guilt-and-negative-self-talk-when-relaxing-productivity-guilt
- Mejia, N. (2025, Desember 16). Why you feel guilty about resting—and how to break the cycle. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/how-to-overcome-productivity-guilt-11869732
- Ramadhina, C., Safitri, D., Annisa, F., & Fadilah, Q. (2023). Pengendalian “toxic productivity” dalam menjaga kesehatan mental pada mahasiswa Universitas Negeri Jakarta di masa pandemi COVID-19. Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi, 12(2), 250–266. https://doi.org/10.14710/interaksi.12.2.250-266
- Tsabita, A., Febriyanti, F., Komariah, S., & Wahyuni, S. (2023). Tren toxic productivity sebagai gejala terjadinya burnout syndrome terhadap prestasi akademik pada remaja rentang usia 18–23 tahun di Kota Bandung. SOSMANIORA: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 2(4), 495–501. https://doi.org/10.55123/sosmaniora.v2i4.2774
Sumber gambar: Pinterest
