Stres merupakan salah satu tantangan kesehatan mental yang paling umum dialami oleh mahasiswa. Beban akademik yang tinggi, tekanan untuk berprestasi, tuntutan organisasi, serta ketidakpastian mengenai masa depan seringkali menjadi sumber stres yang berkelanjutan. Dalam menghadapi kondisi tersebut, mahasiswa mengembangkan berbagai strategi koping untuk mengelola stres. Selain olahraga, tidur, dan dukungan sosial, konsumsi makanan tertentu juga kerap dianggap dapat membantu meredakan stres. Salah satunya adalah dengan mengonsumsi cokelat. Anggapan bahwa cokelat dapat mengurangi stres sudah sangat populer di kalangan mahasiswa. Namun, penting untuk mengkaji apakah klaim tersebut memiliki dasar ilmiah atau sekadar mitos yang berkembang secara sosial.
SDGs
Menonton film bagi kebanyakan orang menjadi cara sederhana untuk melepas lelah setelah rutinitas padat atau sekedar mengikuti cerita yang tengah populer. Namun tahukah Anda, jika aktivitas ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan saja, tetapi dapat membantu dalam proses healing atau penyembuhan emosional dan psikologis.
Menonton film untuk menjaga kesehatan menat ini dikenal dengan istilah cinematherapy. Lewat film menjadi wahana untuk menumbuhkan kesadaran diri, empati, dan pemaknaan terhadap pengalaman hidup.
Libur telah tiba, libur telah tiba! Akhirnya, penantian akan liburan akhir semester sudah terwujud. Sebelum waktu lenggang ini, kamu sudah berencana melakukan segala hal produktif, mulai dari belajar hard skills dan soft skills baru sampai terpikir cicil materi semester depan. Wah, banyak sekali deh kegiatan positif yang ingin dilakukan!
Akan tetapi, semuanya hanya wacana belaka. Scrolling di sosial media lebih menarik dibandingkan eksekusi perencanaan yang telah dibuat. Waktu terasa panjang, pasti bisa melakukan semua wishlist tadi. Penundaan terus terjadi hingga semester depan datang. Perasaan menyesal mulai tumbuh setelah masa liburan selesai.
“Kenapa kemarin aku nggak lakuin ini ya,”
“Coba aja kemarin aku nggak terlena sama yang lain, pasti sekarang aku udah punya skill itu,”
Dan, masih banyak variasi kalimat penyesalan lainnya. Lelah dalam penyesalan? Pasti. Rasanya ingin mengulang waktu kembali, walaupun belum tentu jika diulang kita akan melakukan hal yang positif.
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) menegaskan komitmennya untuk memastikan tidak ada mahasiswa program Sarjana (S1) reguler yang putus kuliah akibat kendala finansial. Komitmen ini ditegaskan menyusul tidak terpenuhinya kuota Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) tahun 2025 bagi sebagian pelamar akibat pengurangan kuota dari pemerintah.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FEB UGM, Bayu Sutikno, S.E., M.S.M., Ph.D., menyampaikan bahwa dari total 60 mahasiswa pelamar KIP-K angkatan 2025, sebanyak 49 mahasiswa dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa KIP-K. Sementara 11 mahasiswa belum memperoleh kuota dari pemerintah.
Kemampuan berkomunikasi efektif, memahami diri, dan menyampaikan nilai secara meyakinkan menjadi kunci sukses dalam proses wawancara kerja. Kesadaran inilah yang ingin ditumbuhkan melalui kegiatan Mandatory Soft Skills: Interview Skills, yang digelar Career and Student Development Unit (CSDU) FEB UGM bersama Lutfi Anggriawan, MR 5, CFP, CHRM, Branch Office Head (Assistant Vice President) BRI Cabang Yogyakarta Cik Ditiro yang juga alumni Manajemen FEB UGM.

Penguasaan keterampilan teknis bukan menjadi satu-satunya modal untuk sukses di dunia profesional. Entrepreneur dan content creator Raymond Chin menegaskan bahwa penguasaan soft skills seperti komunikasi dan empati menjadi fondasi utama yang menentukan keberhasilan seseorang dalam berbisnis. Menurutnya, keduanya adalah kemampuan yang tidak dapat digantikan teknologi, sekaligus penentu apakah seseorang mampu membangun relasi, memimpin, dan bertahan di industri yang terus berubah.
“Memahami orang lain dan tahu caranya menjadi pemimpin, dengan dua skill itu kita tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi,” tegasnya.
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) memberikan berbagai bentuk dukungan bagi mahasiswanya yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Langkah ini diambil untuk memastikan mahasiswa tetap dapat menjalani kegiatan akademik dengan lancar meski berada dalam situasi sulit yang menimpa keluarga mereka. Saat ini tercatat 18 mahasiswa FEB UGM dari berbagai program studi sarjana dan pascasarjana yang terdampak bencana.

Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM berhasil menyumbangkan tiga medali perunggu dari Pekan Olahraga dan Seni Universitas Gadjah Mada (PORSENIGAMA) 2025 cabang tenis lapangan.
Medali perunggu pertama tersebut diraih oleh Ina Winata Kusuma Hasibuan (Ilmu Ekonomi, 2022) dari kategori tunggal putri. Medali perunggu kedua diraih oleh Ina Winata Kusuma Hasibuan (Ilmu Ekonomi 2022) dan Aurelia Yuma Citra Dwinda (Ilmu Ekonomi, 2022) dari kategori ganda putri. Medali perunggu ketiga diraih oleh Muhammad Rafsya Sefyuan Al Fathan (Akuntansi, 2023) dan Iasmina Ligia Radu (Economics-Exchange Program, 2025) dari kategori ganda campuran.
Tidak akan lahir perjalanan yang besar tanpa adanya proses dan keberanian untuk bertahan. I Gusti Ayu Maresta Amrita Puspa Pujawati, berhasil menuntaskan studinya dengan raihan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,63 disertai deretan prestasi yang membanggakan di tingkat nasional dan internasional. Lulusan Program Sarjana Ilmu Ekonomi angkatan 2021 ini merupakan salah satu wisudawan FEB UGM pada periode wisuda November 2025.
Maresta masih ingat betul awal masuk kuliah adalah masa yang tidak mudah baginya. Pasalnya, kala itu ia kehilangan kedua orang tuanya. Saat itu ia merasa hilang arah dan tujuan hidup. Namun ia perlahan berusaha untuk bangkit dengan mencari berbagai kegiatan positif di kampus seperti bergabung dalam organisasi, mengikuti kompetisi, hingga mencoba hal baru yang dapat membantunya dalam menemukan jati diri. Beruntung ia dikelilingi keluarga dan teman yang memberikan banyak dukungan dan tempat bersandar disaat terberatnya.
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) menyediakan fasilitas sarapan gratis dan layanan pendukung lain untuk memastikan mahasiswa dapat menjalani Ujian Akhir Semester (UAS) dengan optimal. Program ini berlangsung selama periode UAS, yaitu 8–19 Desember 2025 dan terbuka bagi seluruh mahasiswa program sarjana FEB UGM.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FEB UGM, Bayu Sutikno, S.E., M.S.M., Ph.D., menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bentuk komitmen fakultas dalam mendukung mahasiswa selama ujian.