Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • Career News
    • Struktur Organisasi
  • Flagship Program
    • Softskills Development
      • STAR LEAD
      • STAR LEAP
      • Star Reach
      • GO-WEST
      • STAR FLEET
      • Online Course
    • Mental Health Program
    • Career Days
    • Program Pra – Inkubasi Bisnis
  • Vacancy
    • Internship
      • Magang Mandiri
      • Database Perusahaan Pengajuan Magang
    • Job
    • Scholarship Opportunities
    • Competition
  • Administration
    • Alur Pengajuan Magang
    • Alur Pengajuan Kompetisi
      • Peminjaman LAMP
    • Alur Pengajuan SKPI
    • Alur Konsultasi Psikologis Mahasiswa
  • Career Support
    • Career Mapping
  • Article
    • Mental Health
    • Career Development
  • Beranda
  • Artikel Libur Panjang
  • Libur Panjang, Waktu Banyak, tapi Kok Nggak Ngapa-ngapain?

Libur Panjang, Waktu Banyak, tapi Kok Nggak Ngapa-ngapain?

  • Artikel Libur Panjang, Mental Health
  • 5 January 2026, 09.21
  • Oleh: CSDU FEB UGM
  • 0

Libur telah tiba, libur telah tiba! Akhirnya, penantian akan liburan akhir semester sudah terwujud. Sebelum waktu lenggang ini, kamu sudah berencana melakukan segala hal produktif, mulai dari belajar hard skills dan soft skills baru sampai terpikir cicil materi semester depan. Wah, banyak sekali deh kegiatan positif yang ingin dilakukan!

Akan tetapi, semuanya hanya wacana belaka. Scrolling di sosial media lebih menarik dibandingkan eksekusi perencanaan yang telah dibuat. Waktu terasa panjang, pasti bisa melakukan semua wishlist tadi. Penundaan terus terjadi hingga semester depan datang. Perasaan menyesal mulai tumbuh setelah masa liburan selesai.
“Kenapa kemarin aku nggak lakuin ini ya,”
“Coba aja kemarin aku nggak terlena sama yang lain, pasti sekarang aku udah punya skill itu,”
Dan, masih banyak variasi kalimat penyesalan lainnya. Lelah dalam penyesalan? Pasti. Rasanya ingin mengulang waktu kembali, walaupun belum tentu jika diulang kita akan melakukan hal yang positif.

Ketika Waktu Luang Justru Membuat Kita Menunda

Tenang, kamu tidak sendirian. Pola prokrastinasi (menunda) merupakan karakteristik lumrah yang dimiliki oleh mahasiswa. Menurut survei Delia dkk. (2024), sekitar 86% mahasiswa sampel mengeluhkan akan prokrastinasi level sedang hingga tinggi dalam mengerjakan tugas akademik. Lantas, jika tidak adanya tekanan akademik dan waktu lebih longgar (seperti saat liburan), bukan seharusnya lebih bisa melakukan banyak hal?

Jangan salah, penelitian dari Pestana dkk. (2020) menemukan hubungan positif antara waktu senggang dengan prokrastinasi. Penelitian mencatat, jika mahasiswa diberikan waktu luang akan semakin menunda pekerjaannya. Selain itu, hubungan antara waktu luang dan kesejahteraan terpetakan pada grafik 1 yang berbentuk kurva U terbalik. Kesejahteraan diartikan sebagai pemulihan psikologis, berkurangnya stres, serta munculnya perasaan bermakna dan puas terhadap waktu yang dijalani. Semakin banyak atau sedikit waktu, tingkat kesejahteraan menurun (grafik 1). Kesejahteraan optimal didapatkan dengan waktu yang seimbang antara luang dan sibuk (grafik 1). Artinya, banyaknya waktu luang akan mengurangi kesejahteraan psikologis individu.

Kondisi ini juga dapat dijelaskan pada Temporal Motivation Theory (TMT). TMT merupakan teori yang menjelaskan motivasi (motivation) dapat ditentukan oleh kemungkinan berhasil (expectancy), manfaat yang didapatkan (value), sensitivitas untuk menunda (impulsiveness), dan waktu untuk realisasi (delay) (Steel & Konig, 2006). Dari persamaan pada persamaan 1, semakin banyak waktu realisasi (delay) maka motivasi (motivation) akan rendah. Jadi, individu yang sedang berada pada fase liburan dengan waktu panjang, cenderung memiliki motivasi rendah untuk melakukan aktivitas atau tugas.

Mengapa Terus Menunda?
Tadi kita sudah membahas, mulai dari penelitian tentang prokrastinasi hingga teori yang mendasari. Nah, sekarang kita bahas beberapa alasan yang dapat mendorong terjadinya penundaan selama liburan, mari kita simak!
1. Present Bias (Chakraborty, 2021)
Pola individu menginginkan kenyamanan masa kini dibandingkan manfaat di masa depan. Sekalipun pilihan akan kenikmatan tersebut hanya memuaskan jangka pendek dan merugikan di masa mendatang.
2. Temporal Motivation Theory (Steel & König, 2006)
Keinginan mengerjakan tugas tergantung dari motivasi utama berupa waktu yang terikat. Ketika batasan waktu (deadline) semakin dekat, keinginan individu untuk segera menyelesaikan suatu tugas meningkat. Dalam konteks waktu liburan, individu cenderung tidak memiliki deadline terdekat yang harus segera diselesaikan. Alhasil, individu tidak memiliki motivasi untuk segera mengeksekusi semua perencanaan.
3. Planning Fallacy (Buehler dkk., 1994)
Fenomena individu yang terlalu optimis dalam merencanakan tugas. Individu merasakan bahwa semua hal yang direncanakan akan berjalan tanpa ada hambatan. Selain itu, individu memiliki harapan, perencanaan dapat diimplementasikan pada masa mendatang, tidak harus hari ini.
4. Emotion Regulation Failure (Gross, 1998)
Keadaan ini muncul ketika individu menyadari adanya emosi negatif, seperti cemas, bosan, dan tidak nyaman, dari aktivitas tertentu. Alih-alih mengelolanya, individu memilih respon jangka pendek yang dianggap nyaman untuk meredakan emosi negatif. Salah satu bentuknya adalah penghindaran dengan alibi yang terdengar wajar, misalnya menjadikan liburan sebagai alasan tidak melakukan kegiatan. Strategi ini memang mampu meredakan emosi sementara, tetapi tidak menyelesaikan sumber ketidaknyamanan yang sebenarnya.

Apakah Hal Ini Menjadi Masalah?
Tapi, terkadang kita berpikir, “Aku liburan untuk refreshing, jalan-jalan, dan menjauh dari beban dari kampus kok. Jadi nggak papa deh, nggak produktif.” Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah, karena tingkat kesejahteraan tergantung dengan perspektif dan kebutuhan psikologis setiap individu. Yang penting, setiap tindakan kita selama liburan memiliki kualitas baik untuk menunjang kesehatan psikologis. Hal ini selaras dengan penelitian Grover & Imran (2024), bahwa kualitas aktivitas waktu luang yang memberikan pemulihan psikologis lebih penting daripada kuantitas lamanya mendapatkan liburan.

Dengan demikian, tidak produktif selama liburan bukanlah masalah selama menjadi pilihan sadar yang memberikan pemulihan psikologis, bukan akibat penghindaran atau penundaan. Jadi, apabila kalian lebih nyaman untuk scrolling media sosial, menonton film, ataupun bermain bersama teman semasa liburan, tidak apa-apa. Nikmati kualitas liburan kalian. Jangan tambah dengan perencanaan yang hanya akan membuat beban psikologis pada diri sendiri, ya!

Rencana Tetap Jalan dengan Strategi Efektif
Hmm, mungkin dari kalian ada yang tetap ingin merealisasikan segala macam rencana tersebut, tanpa menjadikannya beban. Maka dari itu, strategi harus diubah menjadi lebih fleksibel dan nyaman saat diimplementasikan. Berikut merupakan pendekatan yang dapat kamu lakukan untuk tetap produktif selama liburan.
1. If Then Planning (Gollwitzer, 1999)
Cara ini membantu mengubah niat menjadi tindakan nyata dengan mengatur rencana yang lebih sederhana. Alih-alih menetapkan target besar yang terasa berat, tujuan dipecah menjadi langkah kecil yang bisa langsung dilakukan. Daripada membuat target besar, seperti “Liburan ini aku ingin mahir skill X”, susun rencana yang lebih operasional: “Jika habis sarapan aku nggak punya agenda, maka aku akan belajar skill X”. Dengan ini, kita tidak perlu lagi berpikir kapan mulai atau akan mulai dari mana.
2. Minimum Viable Effort (Steel, 2007)
Strategi ini tidak menetapkan langsung ke target hasil, tetapi menargetkan durasi minimal dari setiap langkah untuk mencapainya. Contohnya, membaca buku Y selama 15–20 menit, tanpa adanya kewajiban lanjut dan target output. Cara ini mengatasi resistensi awal dan menurunkan ancaman untuk selalu produktif.
3. Activity Framing (Grover & Imran, 2024)
Kunci utamanya, mengganti konsep kegiatan bahwa kegiatan ini berupa keharusan agar produktif. Lebih baik, kegiatan ini dinilai dengan lebih memberikan sentuhan perasaan. Contohnya, membaca buku bukan demi meningkatkan skill, tetapi adanya rasa ingin tahu. Activity Framing dapat menambah motivasi internal dan menjaga konsistensi aktivitas.

Refleksi Akhir: Memaknai Waktu Luang secara Sehat
Pada akhirnya, liburan tidak harus selalu melakukan hal yang kita anggap sebagai kegiatan produktif. Kita juga perlu ruang untuk memulihkan diri dan menyelaraskan kembali niat dengan kebutuhan psikologis. Jadi, tidak masalah jika liburan diisi dengan istirahat dan bersenang-senang, selama hal tersebut memberikan pemulihan psikologis. Akan tetapi, produktif di hari libur bukan sesuatu yang harus dihindari, selama disesuaikan dengan kondisi dan kapasitas diri. Produktivitas yang dilakukan secara sadar, fleksibel, dan tidak memaksakan diri justru dapat membantu kita mendekati versi diri yang lebih baik. Dengan menyeimbangkan antara istirahat dan aktivitas bermakna, kualitas diri selama liburan dapat meningkat dan kita jadi lebih siap untuk menghadapi semester baru!

Referensi
1. Buehler, R., Griffin, D., & Ross, M. (1994). Exploring the “planning fallacy”: Why people underestimate their task completion times.. Journal of Personality and Social Psychology, 67(3), 366–381. https://doi.org/10.1037/0022-3514.67.3.366
2. Chakraborty, A. (2021). Present Bias. Econometrica, 89(4), 1921–1961. https://doi.org/10.3982/ecta16467
3. Delia, E., & Biromo, A. R. (2024). Hubungan stres dan prokrastinasi pada mahasiswa kedokteran di Jakarta Barat. Tarumanagara Medical Journal, 6(2), 194–200. https://doi.org/10.24912/tmj.v6i2.33348
4. Gollwitzer, P. M. (1999). Implementation intentions: Strong effects of simple plans. American Psychologist, 54(7), 493–503. https://doi.org/10.1037/0003-066x.54.7.493
5. Gross, J. J. (1998). The emerging field of emotion regulation: An integrative review. Review of General Psychology, 2(3), 271–299. https://doi.org/10.1037//1089-2680.2.3.271
6. Grover, A., & Imran, M. (2024). Investigating The Impact of Leisure-Time Physical Activity on The Psychological Well-Being of Young Adults. INTERNATIONAL JOURNAL of RESEARCH and ANALYTICAL REVIEWS, 11(2), 883–915. https://www.researchgate.net/publication/380295815_Investigating_The_Impact_of_Leisure-Time_Physical_Activity_on_The_Psychological_Well-Being_of_Young_Adults
7. Martuza, J., Dahlen, M., & Thorbjørnsen, H. (2025). “Not too little and not too much?” The relationships between spare time, spare money, and subjective well-being. The Journal of Positive Psychology, 1–13. https://doi.org/10.1080/17439760.2025.2502485
8. Pestana, J. V., Codina, N., & Valenzuela, R. (2020). Leisure and Procrastination, a Quest for Autonomy in Free Time Investments: Task Avoidance or Accomplishment? Frontiers in Psychology, 10. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2019.02918
9. Steel, P. (2007). The nature of procrastination: A meta-analytic and theoretical review of quintessential self-regulatory failure. Psychological Bulletin, 133(1), 65–94. https://doi.org/10.1037/0033-2909.133.1.65
10. Steel, P., & König, C. J. (2006). Integrating Theories of Motivation. Academy of Management Review, 31(4), 889–913. https://doi.org/10.5465/amr.2006.22527462

Sumber gambar: Pinterest

Tags: SDG 3 SDGs

Recent Posts

  • Manis di Lidah, Tenang di Pikiran: Mitos atau Fakta Cokelat sebagai Pereda Stres?January 26, 2026
  • FEB UGM Hadirkan Cinematherapy sebagai Ruang Refleksi EmosionalJanuary 5, 2026
  • Libur Panjang, Waktu Banyak, tapi Kok Nggak Ngapa-ngapain?January 5, 2026
  • FEB UGM Pastikan Keberlanjutan Studi Mahasiswa di Tengah Keterbatasan Kuota KIP-KJanuary 5, 2026
  • Alumni FEB UGM Bagikan Tips Sukses Wawancara Kerja Bagi MahasiswaDecember 22, 2025
  • Raymond Chin Tekankan Komunikasi dan Empati sebagai Kunci Sukses BerbisnisDecember 22, 2025
Universitas Gadjah Mada

 

Unit Pengembangan Mahasiswa dan Karir

Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Gadjah Mada
Jl. Sosio Humaniora No.1, Bulaksumur, Depok, Sleman
Yogyakarta 55281

© Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY