“Pernah nggak sih, kalian merasa pusing memikirkan tugas kuliah yang menumpuk bersamaan dengan dompet kalian yang kosong?”
“Atau pernah bingung memilih antara membeli makan malam atau mencetak tugas untuk besok pagi?”
Bagi sebagian mahasiswa, kondisi seperti itu bukan sekadar candaan tentang “tanggal tua”, tetapi realita yang benar-benar dialami setiap hari. Di tengah tuntutan akademik yang semakin berat, banyak mahasiswa juga harus menghadapi tekanan ekonomi.
Mahasiswa sering dianggap sebagai kelompok yang bebas dan penuh semangat. Namun di balik tugas, organisasi, dan kehidupan kampus yang terlihat menyenangkan, banyak mahasiswa sebenarnya sedang berjuang menghadapi stres finansial. Mulai dari biaya kos, uang makan, transportasi, hingga pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang hampir jatuh tempo, semuanya dapat menjadi sumber tekanan yang besar. Tekanan finansial yang terus berlangsung tersebut tidak hanya berdampak pada kondisi ekonomi mahasiswa, tetapi juga dapat mempengaruhi kesehatan mental mereka.
Menurut Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, sekitar 28 juta masyarakat Indonesia diperkirakan mengalami masalah kesehatan mental (DetikHealth, 2026). Angka tersebut mengacu pada data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebut bahwa 1 dari 8 hingga 1 dari 10 orang berpotensi mengalami gangguan kejiwaan (DetikHealth, 2026). Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 280 juta jiwa, persoalan kesehatan mental menjadi isu serius yang dapat dialami berbagai kelompok masyarakat, termasuk mahasiswa.
Ketika Kuliah Tidak Lagi Hanya Tentang Belajar
“Katanya masa muda adalah masa paling indah. Tapi bagaimana jika setiap hari justru dipenuhi rasa cemas memikirkan uang, uang, dan uang?”
Di era digital seperti sekarang, mahasiswa sangat mudah tergoda oleh flash sale, promo gratis ongkir, atau tren yang viral di media sosial. Nongkrong di kafe kekinian, ikut war tiket konser, atau membeli barang hanya karena “lagi hits” di media sosial. Hal seperti itu sering kali terasa seperti kebutuhan, padahal sebenarnya hanya keinginan sesaat yang dipicu oleh fear of missing out (FOMO) dan tekanan untuk tidak tertinggal dari lingkungan pertemanan. Fenomena ini yang kemudian dikenal sebagai gaya hidup hedonisme, yaitu kecenderungan mengutamakan kesenangan sesaat tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kondisi keuangan jangka panjang.
Tanpa disadari, kebiasaan membeli barang secara spontan karena “lagi murah” atau sekadar ikut tren dapat membuat pengeluaran membengkak di akhir bulan. Banyak pembelian impulsif sebenarnya bukan kebutuhan mendesak, melainkan keinginan sesaat yang dipengaruhi emosi atau lingkungan pertemanan. Uang yang seharusnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan pokok seperti makan, transportasi, atau keperluan kuliah, justru habis lebih dulu karena hal-hal yang sifatnya sementara.
Kondisi ini diperberat oleh tekanan hidup di kota pelajar seperti Yogyakarta, di mana banyak mahasiswa harus hidup jauh dari orang tua dengan biaya hidup yang terus meningkat, mulai dari biaya kos, uang makan, hingga kebutuhan akademik seperti buku, kuota internet, dan tugas praktikum. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS, 2026), inflasi pada sektor makanan dan kebutuhan sehari-hari terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, sehingga uang bulanan mahasiswa terasa semakin cepat habis.
Berusaha Semua Baik-Baik Saja
“Hal yang paling menyedihkan terkadang bukan soal beban finansial, tetapi soal berpura-pura baik-baik saja meskipun sebenarnya sedang kewalahan.”
Masalah finansial ternyata tidak hanya berdampak pada kondisi ekonomi, tetapi juga kesehatan mental. Mahasiswa yang mengalami tekanan keuangan cenderung lebih mudah merasa cemas, sulit fokus belajar, dan kehilangan motivasi.
Menurut Psikolog Iswan Saputro (KlikDokter, 2024), stres finansial dapat menyebabkan:
- Gangguan tidur,
- Kecemasan berlebihan,
- Sulit berkonsentrasi,
- Hingga gejala depresi.
Kondisi ini sering kali tidak terlihat dari luar. Banyak mahasiswa tetap datang ke kelas, tetap tertawa bersama teman-temannya, tetapi sebenarnya sedang memikirkan bagaimana cara bertahan sampai akhir bulan. Tidak sedikit juga mahasiswa yang akhirnya mencari pinjaman online atau memaksakan diri bekerja berlebihan sambil kuliah demi memenuhi kebutuhan hidup. Jika terus berlangsung, tekanan seperti ini dapat memengaruhi prestasi akademik dan kondisi psikologis mahasiswa dalam jangka panjang.
Mindful Budgeting: Jurus Bertahan Mahasiswa Masa Kini
“Terkadang yang membuat uang terasa cepat habis bukan karena satu pengeluaran besar, tetapi karena pengeluaran-pengeluaran kecil yang terus dianggap bukan masalah”
Di tengah godaan gaya hidup serba instan dan tren yang datang silih berganti, mahasiswa perlu memiliki kemampuan mengatur keuangan dengan lebih sadar. Salah satu cara yang mulai banyak diterapkan adalah mindful budgeting, yang juga disebut sebagai mental budgeting, yaitu proses kognitif yang digunakan seseorang untuk mengorganisasikan, mengevaluasi, dan memantau aktivitas keuangannya dengan cara mengelompokkan pemasukan dan pengeluaran secara sadar ke dalam kategori tertentu (Bai, 2023). Penelitian yang dilakukan terhadap mahasiswa menunjukkan bahwa financial literacy, mental budgeting, dan self-control secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap financial well-being seseorang, dan bahwa ketiganya saling berkaitan erat dalam praktiknya sehari-hari (Bai, 2023). Dengan kata lain, mindful budgeting bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan gabungan dari kebiasaan-kebiasaan yang telah terbukti dapat membantu seseorang mengelola keuangan dan menekan tingkat stres finansial.
Beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan mahasiswa dalam melakukan mindful budgeting antara lain:
Mencatat Pengeluaran Harian
“Uang sering terasa hilang begitu saja karena kita tidak pernah benar-benar sadar dipakai untuk apa.”
Mencatat pengeluaran merupakan bentuk konkret dari mental budgeting, yaitu mengelompokkan dan memantau pengeluaran secara sadar alih-alih hanya mengandalkan ingatan. Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan ini membantu seseorang memahami kondisi keuangannya dengan lebih baik sehingga dapat membuat keputusan pengeluaran yang lebih tepat (Bai, 2023). Dengan mencatat pengeluaran harian, mahasiswa dapat mengetahui kebiasaan boros yang sebelumnya tidak disadari, termasuk pola pembelian impulsif yang sering luput dari perhatian. Saat ini sudah banyak aplikasi keuangan sederhana yang bisa membantu melakukan tracking pengeluaran.
Membedakan Kebutuhan dan Keinginan
Sering kali mahasiswa membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkan, tetapi karena sedang tren, takut tertinggal dari lingkungan pertemanan (FOMO), atau tergoda oleh media sosial. Padahal, tidak semua hal yang diinginkan merupakan kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Kebiasaan membeli barang hanya demi mengikuti gaya hidup dapat membuat pengeluaran menjadi tidak terkontrol dan uang bulanan cepat habis. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mulai belajar membedakan mana kebutuhan utama seperti makan, transportasi, dan keperluan kuliah, serta mana keinginan yang sebenarnya masih bisa ditunda agar kondisi finansial tetap lebih stabil.
Membuat Batas Pengeluaran Mingguan
Langkah ini sejalan dengan prinsip mental budgeting, yaitu membagi sumber daya keuangan ke dalam kategori atau periode tertentu agar lebih mudah dipantau dan dikendalikan, sehingga membantu seseorang menghindari pengeluaran berlebihan dan lebih siap menghadapi kebutuhan mendatang (Bai, 2023). Membagi uang bulanan menjadi anggaran mingguan dapat membantu mahasiswa lebih disiplin dalam mengatur keuangan sehari-hari. Banyak mahasiswa menghabiskan terlalu banyak uang di awal bulan karena merasa masih memiliki saldo yang cukup, apalagi jika di awal bulan tersebut ada godaan flash sale atau ajakan nongkrong, sehingga pada akhir bulan justru kesulitan memenuhi kebutuhan penting. Dengan membuat batas pengeluaran mingguan, mahasiswa dapat lebih mudah mengontrol penggunaan uang dan menghindari kebiasaan boros yang tidak disadari.
Mengurangi Impulsive Buying
Penelitian menunjukkan bahwa self-control, yaitu kemampuan mengendalikan pikiran, emosi, dan tindakan demi mencapai tujuan jangka panjang, merupakan faktor penting yang membuat seseorang lebih mampu menahan dorongan belanja dan tetap berpegang pada rencana keuangannya (Bai, 2023). Sebaliknya, kegagalan mengendalikan diri inilah yang sering memicu pembelian impulsif. Di era digital seperti sekarang, mahasiswa sangat mudah tergoda oleh flash sale, promo gratis ongkir, atau tren yang viral di media sosial. Tanpa disadari, kebiasaan membeli barang secara spontan karena “lagi murah” atau sekadar ikut tren dapat membuat pengeluaran membengkak di akhir bulan. Padahal, banyak pembelian impulsif sebenarnya bukan kebutuhan mendesak, melainkan keinginan sesaat yang dipengaruhi emosi atau lingkungan pertemanan. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mulai lebih sadar dalam mengelola pengeluaran, misalnya dengan membiasakan berpikir ulang sebelum membeli barang dan memprioritaskan kebutuhan yang benar-benar penting agar kondisi finansial tetap stabil dan tidak menambah stres di kemudian hari.
Meningkatkan Literasi Keuangan
Penelitian mengenai literasi keuangan mahasiswa Indonesia menunjukkan bahwa pemahaman finansial memiliki pengaruh positif terhadap kemampuan pengelolaan keuangan mahasiswa (Thomas, Nur, & Indriaty, 2024). Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa financial literacy berkontribusi langsung terhadap financial well-being, karena mahasiswa yang memiliki pemahaman finansial yang baik cenderung lebih mampu mengontrol pengeluaran, menentukan prioritas kebutuhan, dan menghindari kebiasaan konsumtif yang berlebihan (Bai, 2023). Dengan pengelolaan keuangan yang lebih baik, mahasiswa juga dapat mengurangi rasa cemas terhadap kondisi finansial mereka karena memiliki kontrol yang lebih jelas terhadap penggunaan uang sehari-hari. Walaupun tidak langsung membuat seseorang menjadi kaya, kemampuan mengatur keuangan setidaknya dapat membantu mahasiswa menjalani kehidupan perkuliahan dengan lebih tenang dan terarah.
Menjadi mahasiswa bukan hanya soal belajar dan mengejar nilai akademik. Di balik aktivitas perkuliahan, banyak mahasiswa juga sedang berjuang menghadapi tekanan ekonomi yang diam-diam menguras kesehatan mental mereka.
“Kepala sudah lelah memikirkan tugas, tetapi dompet kosong membuat pikiran semakin penuh.”
Karena itu, penting bagi mahasiswa untuk mulai memahami cara mengelola keuangan dengan lebih sadar melalui mindful budgeting. Dengan mencatat pengeluaran, membatasi gaya hidup impulsif, dan memahami prioritas kebutuhan, mahasiswa dapat memiliki kontrol yang lebih baik terhadap kondisi keuangannya, yang selanjutnya berpotensi mengurangi stres finansial. Sebab pada akhirnya, kesehatan mental yang baik tidak hanya membutuhkan waktu istirahat yang cukup, tetapi juga kondisi finansial yang lebih terarah dan terkendali. Dengan kondisi finansial yang lebih sehat, pikiran pun memiliki ruang yang lebih tenang untuk berkembang dan menghadapi berbagai tantangan perkuliahan.
Penulis: Nadine Tektanova Devina
DAFTAR PUSTAKA
DetikHealth. (2026, 18 Mei). Bak fenomena gunung es, Menkes sebut 28 juta warga RI alami masalah mental. Detik Health. https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8314123/bak-fenomena-gunung-es-menkes-sebut-28-juta-warga-ri-alami-masalah-mental
Bai, R. (2023). Impact of financial literacy, mental budgeting and self control on financial wellbeing: Mediating impact of investment decision making. PLOS ONE, 18(11), e0294466. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0294466
Badan Pusat Statistik. (2026, 1 April). Inflasi year-on-year (y-on-y) pada Maret 2026 sebesar 3,48 persen. BPS Indonesia. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/04/01/2564/inflasi-year-on-year–y-on-y–pada-maret-2026-sebesar-3-48-persen-.html
KlikDokter. (2024, 29 Mei). Risiko stres finansial pada mahasiswa akibat kenaikan uang kuliah tunggal (UKT). KlikDokter. https://www.klikdokter.com/psikologi/kesehatan-mental/risiko-stres-finansial-pada-mahasiswa
Thomas, G. N., Nur, S. M. R., & Indriaty, L. (2024). The impact of financial literacy, social capital, and financial technology on financial inclusion of Indonesian students. International Research Journal of Economics and Management Studies (IRJEMS), 3(4), 308–315. https://doi.org/10.56472/25835238/IRJEMS-V3I4P140